Bogor, Realita Indonesia News — Kondisi Setu Citongtut, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor kembali memprihatinkan. Pencemaran lingkungan yang diduga kuat berasal dari aktivitas pihak-pihak tak bertanggung jawab kembali menimbulkan dampak serius. Ratusan ikan terlihat mati dan mengapung di permukaan air, menandakan kualitas air setu telah berada pada titik mengkhawatirkan.
Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi. Fakta tersebut justru memperkuat dugaan bahwa pencemaran di Setu Citongtut telah berlangsung secara sistematis dan berulang, tanpa penanganan tegas yang memberi efek jera. Ironisnya, hingga kini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor terkesan tidak berdaya, seolah hanya menjadi penonton atas kerusakan lingkungan yang terus berulang.
Warga mempertanyakan sikap DLH:
Apakah keberpihakan aparat lingkungan ini untuk melindungi pengusaha, atau membela kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan?
Di lokasi terlihat warga berupaya menyelamatkan ikan-ikan yang masih hidup secara manual, sementara limbah dan air keruh bercampur sisa pencemaran memenuhi perairan setu. Upaya warga tersebut menjadi tamparan keras bagi instansi yang seharusnya hadir paling depan dalam penegakan hukum lingkungan.
Pencemaran ini bukan sekadar soal ikan mati. Ini menyangkut hak masyarakat atas lingkungan yang sehat, ancaman terhadap ekosistem, serta potensi bahaya kesehatan jangka panjang. Jika pelaku pencemaran terus dibiarkan tanpa sanksi tegas, maka Setu Citongtut tinggal menunggu waktu untuk mati total.
Masyarakat mendesak:
1. DLH Kabupaten Bogor segera mengungkap sumber pencemaran secara transparan
2. Penindakan hukum tegas terhadap pelaku, tanpa pandang bulu
3. Penghentian aktivitas usaha yang terbukti mencemari lingkungan
4. Pemulihan ekosistem Setu Citongtut secara serius dan berkelanjutan
Jika DLH terus diam dan ragu bersikap, maka patut dipertanyakan fungsi dan keberadaannya. Lingkungan rusak, ikan mati, warga dirugikan — siapa yang sebenarnya dilindungi oleh negara?
(red)






















