Bekasi, Realita Indonesia News — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi bagi para siswa justru menuai keluhan dari sejumlah wali murid di SDN Jakamulya 3, wilayah Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Keluhan tersebut muncul setelah para siswa menerima paket makanan yang dinilai sangat tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak sekolah dasar. Berdasarkan foto yang beredar, menu yang diberikan hanya berupa beberapa potong makanan ringan seperti kentang goreng, serta makanan kecil yang dikemas seadanya dalam plastik kecil tanpa standar penyajian yang jelas.
Sejumlah wali murid menyayangkan kondisi tersebut. Mereka menilai menu yang diberikan jauh dari kata “bergizi” sebagaimana tujuan utama program MBG.
“Kalau ini disebut makan bergizi, kami sangat mempertanyakan. Anak-anak hanya mendapat potongan kecil kentang goreng, tempe kecil 1 kurma 3 biji, telur rebus dan kelengkeng 4 biji dan makanan kecil seperti ini. Ini tidak mencerminkan menu sehat untuk tumbuh kembang anak,” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Para orang tua juga mempertanyakan pengawasan dari pihak sekolah maupun instansi terkait dalam pelaksanaan program tersebut. Mereka menilai ada indikasi lemahnya kontrol kualitas terhadap penyedia makanan yang mendistribusikan menu kepada para siswa.
Selain kualitas menu yang dipertanyakan, kemasan makanan juga dinilai tidak memenuhi standar kebersihan dan gizi. Makanan hanya dibungkus plastik kecil tanpa label komposisi, tanggal produksi, maupun informasi kandungan gizi.
Kondisi ini memicu kekecewaan para wali murid karena program yang seharusnya mendukung kesehatan anak justru berpotensi menjadi sekadar formalitas tanpa memperhatikan kualitas makanan yang diberikan.
“Program ini menggunakan anggaran negara. Harusnya pengawasan ketat. Jangan sampai yang dikorbankan justru kesehatan anak-anak,” tambah wali murid lainnya.
Para orang tua mendesak pihak sekolah, dinas pendidikan, serta pemerintah daerah Pemerintah Kota Bekasi untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah tersebut. Mereka juga meminta transparansi terkait pihak penyedia makanan dan standar menu yang seharusnya diberikan kepada siswa.
Jika kondisi seperti ini terus terjadi tanpa adanya perbaikan, para wali murid mengaku tidak menutup kemungkinan akan melaporkan persoalan tersebut kepada instansi pengawas agar dilakukan audit terhadap pengelolaan program tersebut.
Program makan bergizi seharusnya menjadi investasi masa depan bagi generasi muda. Namun jika pelaksanaannya tidak diawasi secara serius, program tersebut berpotensi kehilangan makna dan justru memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat.
(red)






















